Sajian seadanya

Hanyalah keisengan dan ide yang berserakan yang dikumpulkan dari seorang pemancal pedal.

"Kabari Pakdhe jika isinya keliru, Kabari yang lain jika isinya cuma segitu"


Selasa, 20 Januari 2015

Aziz Gagap Nelen Santen, Mohon Maap Nyuwun Ngapunten

Sugeng enjang menjelang siang, hari ini masih mendung setelah kemarin sehari semalam hujan tiada henti, sampe atap kamar Pakdhe rembes air. Tepat seminggu sejak hari Rabu Pakdhe menghilang, sebenarnya masih banyak yang mau dibagi-bagikan dengan pemirsa sedulur sekalian, namun apa daya Pakdhe mengalami hal yang tidak diinginkan.
Tepat seminggu yang lalu, hari Rabu tanggal 14 Januari 2015 pukul 16.05 WESK (Wekdal Endonesa Sisih Kilen) Pakdhe mengalami kecelakaan di Jl. Adisucipto YK, sebelah barat jembatan layang Janti, sekitar 200 meter menjelang Ambarukmo Plaza dari arah timur
 Saat itu Pakdhe memancal Si Hitam dari gua hantu dengan kecepatan kurang lebih 60kpj, karena masih posisi dekat dengan Traffic Light bawah jembatan layang Janti. Namun tiba-tiba muncul penyeberang yang menyeberang secara mendadak di area putar balik. Putar balik digunakan untuk kendaraan yang searah yang kemudian memutar balik ke arah yang berlawanan, jadi bukan digunakan sebagai penyeberangan. Area putar balik ada pada jalan yang dibagi menggunakan separator permanen, seperti beton, taman ataupun pulau jalan.
Alhasil tak dapat dihindari Pakdhe menghantam motor yang menyeberang secara mendadak tersebut karena jarak sudah terlalu dekat kurang dari 5 meter, dan ndlosor lah Pakdhe beserta Si Hitam. Tak disangka ternyata tak hanya Pakdhe yang menghantam penyeberang tersebut, ada 1 pemotor lagi yang menabrak dari sisi kiri. Pakdhe terseret beserta Si hitam mencicipi panas dan kerasnya aspal di tubuh, namun tak terjadi cedera yang parah seperti patah tulang, retak ataupun terbentur.

Bukan si hitam, hanya mirip
 Yang aneh ternyata Si Hitam juga hanya mengalami cedera ringan, yaitu ban depan pecah, fork setang agak bermasalah tanpa lecet-lecet, yang sebelumnya Pakdhe perkirakan dengan hantaman sekeras tersebut akan hancur bodynya. Akhirnya Pakdhe dilarikan, eh diboncengkan ke IGD RS terdekat untuk mendapatkan pengobatan luka-luka yang didapat
Setelah 3 hari diinapkan di rumah saudara, Pakdhe bisa memaksakan pulang menggunakan jasa pelari dari Surabaya, alias mantan Sumber Kencono yang legendaris itu.

Di luar konteks mencari siapa yang salah, alangkah baiknya kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk semua. Bahwa kondisi jalan raya adalah kondisi yang ekstrim dan ganas, sehandal apapun kita, sekomplit apapun perlengkapan kita, keselamatan ditentukan oleh Allah SWT. Maka mari kita budayakan dari diri sendiri untuk selalu meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
Poko'e Pancal Mubal
Salam Pancal Pedal, Harus Tetap Tawakal

Rabu, 14 Januari 2015

Kuatne mentale, Pancal pedale : Fenomena Unik

Pagi ini masih mendhung pemirsa, wong jenenge ae musim hujan, nak terang benderang malah tidak pas, apalagi ini bulan Januari yang konon katanya belum pernah bulan Januari musim kemarau di Endonesa Tercintah ini. Uneg-uneg ini jangan dibaca kalo tidak minat, cukup dipelajari saja, wong isinya cuma gedebusan tukang pancal pedal yang reka'e jadi pengamat, yah bener-bener pengamat karena mampune cuma mengamati tidak melakoni.
Pakdhe sebenarnya mau nulis tentang pengalaman-pengalaman memancal pedal, cuma ada hal unik yang rasanya ngganjel di hati pengen dikeluarin, kalo ndak dikeluarin bisa-bisa keganjel dan kelamaan ngetemnya. Mungkin sampeyan sudah bisa membayangkan kalo Pakdhe kasih klu, yaitu peta jalur terpanas dan persaingan tersengit. Hayo tebak yang dimaksud apa? Wis lah kalo tebak-tebakan malah mumet dan gagal paham nanti, Pakdhe mau mengurai jalur ekstrim terseksi, Solo-Surabaya.
Surakarta

Surabaya
 Kenapa dikatakan ekstrim? karena sudah menjadi rahasia umum kalo jalur tersebut mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, eh malah nyanyi lagu pilem anak-anak. Jalur tengah, atau jalur antara Solo-Surabaya memang mempunyai medan yang relatif berkelok-kelok dan sempit apalagi di sekitar hutan Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Madiun.

Hutan Jawa Timur
Terus disebut terseksi karena memang molek dan bohay, eh malah membahas yang lain, karena memang jalur tersebut tidak pernah lekang oleh zaman, alias semakin besar dan semakin ramai saja. Meski di jalur-jalur ini terdapat jalur transportasi kereta api, namun jalur darat menggunakan bis umum lebih diminati.

Kereta Api
Disinilah keunikan tersebut muncul, fenomena kereta api sebagai transportasi murah dan relatif lebih nyaman daripada menggunakan transportasi darat lainnya tidak berlaku di jalur ini, kenapa? Pakdhe coba mengurai saja, jangan terlalu dipercaya.

Pertama : Tarif Bus Murah
Tarif yang dipakai di jalur ini menggunakan sistem point-to-point, jadi biaya yang dikeluarkan sesuai dengan jarak yang ditempuh yang disesuaikan dengan karcis yang diterima penumpang. Jadi tidak ada kasus mbayare "dikepruk sak modare" alias mbayarnya mahal tidak jelas.
Sumber Kencono

Mira

Di samping itu, terdapat kode KL alias pemegang kartu langganan, yang pasti mendapatkan diskon alias lebih murah. Bayangkan jika sampeyan pengguna harian jalur ini, pasti selembar KL akan membuat sampeyan ngiler khan? hehehe. Lumayan selisihnya dalam sebulan bisa buat beli mobil-mobilan buat anak.
Kartu Langganan

Kedua : Persaingan antar Perusahaan
Dengan tidak adanya pemain tunggal, otomatis bus akan berlomba-lomba menarik minat penumpang. Meski konon zaman baheula dulu sekali, jalur ini termasuk jalur dengan perusahaan bus banyak, namun Pakdhe mengamati akhir-akhir ini tidak pake konon, tinggal dua pemain yang bermain (sebenarnya bekerja) di jalur ini, yaitu Sumber Kencono yang kini berubah menjadi Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu serta Mira. Maka keduanya pun berlomba-lomba untuk menggaet penumpang dengan meningkatkan pelayanan semaksimal mungkin.
Kawan di Pangkalan
Lawan di Jalanan

Ketiga : Waktu tempuh singkat
Sudah diketahui bersama kalau bis-bis di jalur ini terkenal sebagai raja jalanan, karena dengan jalur sempit dan berkelok mampu memaksimalkan kecepatan di jalan. Menurut analisa Mbah Darmo sebelah rumah Pakdhe, kecepatan ini merupakan kombinasi antara karakter orang Surakarta dan orang Surabaya, maklum keduanya mengandung format Sura alias Hiu jadi ganas-ganas kucing gitu. Orang Surabaya cenderung keras dan sangar, sedangkan orang Surakarta cenderung nekat meski halus. Yang ini jangan dipercaya wong cuma gedebusan. Waktu tempuh yang singkat selain karena faktor kehandalan kru (driver dan kernet), kehandalan mesin, juga karena tidak menggunakan sistem setoran, jadi tidak perlu berlama-lama ngetem sampe karaten, poko'e gas sak tekane, enek penumpang yang berhenti, kalo ndak ada ya tetep bersyukur.
Pancal Pedale

Keempat : Bisnya Nyaman
Persaingan sengit duo perusahaan tersebut, sudah pasti akan bersaing memberikan pelayanan sak pole, yang jelas bukan hanya sekedar mlaku mrambat sak tekane, tapi harus nyaman, cepat dan murah. Bis-bis yang dipakai di jalur ini relatif menggunakan bis baru dan sangat jarang hanya re-body, karena hal ini berkaitan dengan erang-mengerang sang mesin, coba kalo bodyne anyar mesine lawas, pasti tidak erang-mengerang tapi malah eden-mengeden. Trus yang Pakdhe ketahui beberapa waktu terakhir ini semua armada sudah menggunakan pendingin udara, alias tidak perlu tepas tangan. Coba bayangken alangkah nikmatnya dihembus AC dengan tanpa asap rokok kemebul di tengah panasnya jalur tersebut. Ah sudahlah Pakdhe cuma bisa membayangkan.
Tepas tangan
Kulkas berjalan

Kelima : Interval pendek
Persaingan lain adalah jor-joran mengeluarkan bus terbaru, sehingga jarak keberangkatan bus sangat mepet. Ini termasuk memanjakan penumpang karena tidak perlu nunggu sak ngoyote sak ndhangkele untuk mendapatkan angkutan umum.

Keenam : 24/7
Ini yang tidak kalah penting, 24 jam sehari melayani penumpang, sehingga tidak ada kasus sampeyan thenguk-thenguk di tengah hutan menunggu bis semalaman.

Pakdhe cuma bisa membayangken alangkah nikmatnya mereka yang selalu menggunakan jasa transportasi ini di jalur tersebut, dan alangkah sengsaranya sekali ada mogok masal.
Himbauan Pakdhe sampeyan bisa nguwongne kru bis, bagaimanapun juga kalo diuwongne dan dihormati pasti lebih semangat kerjane, jangan sampai dikompori buat kebut-kebutan, karena Pakdhe sendiri kalo dikompori ya kicat-kicat kepanasan.
Wis, jangan dipercaya kalo Pakdhe bilang jalur Solo-Surabaya adalah jalur 100% menggunakan bus AC, wong ini cuma gedebusan pagi-pagi, kalo salah mohon dikoreksi.
sekian, "salam pancal pedal, harus tetap tawakal"

Selasa, 13 Januari 2015

Becik ketitik, olo ketoro - Ngereme sithik nyalipe entuk semono

Kembali Pakdhe crito-crito soal jalanan, maklum wong biasane Pakdhe mancali pedal. Hidup di jalanan memang keras sedulur. Yang bilang di jalan cuma butuh kemampuan mengendarai dan surat-surat kelengkapan mungkin perlu belajar lagi. Musuh utama di jalanan adalah emosi kita sendiri. Jane Pakdhe nggedebus kayak gini bukan karena baca buku panduan di loakan samping alun-alun, tapi cuma curhat colongan sing selalu dirasakan.
Emosi merupakan faktor yang tidak boleh kita kesampingkan. Bisa jadi sampeyan berpikir emosi adalah marah, jane itu kliru sedulur. Emosi merupakan keadaan jiwa, bisa seneng, susah, marah, dan sebagainya. Yang ditekankan di jalanan adalah kendali emosi di samping kendali kendaraan. Orang di jalanan yang sering dirasakan adalah marah, apa sebabnya? mungkin sampeyan disalip kendaraan lain, atau hampir celaka karena kendaraan lain atau bahkan menderita karena menghadapi kemacetan.
Hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang lumrah yang kita semua rasakan di jalanan. Contohnya kalo sampeyan diserobot kendaraan lain, mesthi sampeyan marah-marah kalo perlu pengen mbbandem sing nyerobot. Pakdhe coba mengurai dari satu sisi dulu.
babat kanan
 Coba bagaimana kalo yang bawa motor itu sampeyan? pengennya mesti njotosi sopire bus.

ra minggir gasruk
 Atau yang ini? kalo jadi sopire truk pengene nguncalne dongkrak ke arah bus khan?

goyang kanan kiri
Yang ini juga tidak kalah sangare, sampek mobile kebuang ke bahu jalan. Yang pasti yang kita rasakan amat sangat emosi sekali (banyak bener yak). Pengene misuh-misuh ndak jelas, rasane pengen balas dendam, kalo bisa arep nglethak (nyakot) setire bus tersebut.
Okelah kalo kita esmosi, itu sudah maklum, tapi coba kita bayangken apakah yang nyrobot jalur tersebut tidak punya alasan tertentu dan tertawa terbahak-bahak waktu nyalip. Oh nooooooo, kalo Pakdhe rasaken waktu nyalip seperti itu jantung pasti lebih deg-deg-an, alias adrenalin terpacu kencang. Jangan dikira itu semua gampang dan menyenangkan, karena waktu tempuh adalah segalanya. Pakdhe percaya kalo bis-bis di atas tidak bakal rebutan penumpang, wong itu sudah punya agen sendiri-sendiri. Yang menjadikan mereka menggila di jalanan adalah waktu tempuh. Banyak faktor yang menghambat waktu di jalanan. Bisa kondisi jalanan yang tidak memadai, kemacetan ataupun banyaknya kendaraan overload, sehingga ketika jalanan lumayan lengang mereka harus tancap gas sebanter-banternya.
Offroad
 Berapa lama waktu yang tersita untuk menempuh jalan seperti di atas sepanjang 100 meter? Yang dihitung tidak hanya waktu kita menempuh 100 meter tersebut, namun juga kemacetan sebelum mencapai jalanan rusak tersebut, yang otomatis semua kendaraan memperlambat kecepatan. Padahal berapa banyak jalan macam tersebut di negeri Endonesa Tercintah ini?


 atau mungkin kita terjebak kepadatan lalu lintas seperti di atas, berapa lama waktu yang tersita padahal kita sudah mempunyai jadwal yang harus ditempuh tepat waktu


Bisa juga terjadi konpoi truk terpanjang di dunia, alias jam-jam padatnya angkutan barang. Itu juga memperlambat waktu yang harus kita tempuh. Sehingga sudah menjadi suatu hal yang umum ketika ada longgar langsung ambil kesempatan.
Yang jelas ndak masalah untuk goyang kanan tersebut asal tetap menghormati lawan arah, nyalakan sein serta bunyikan klakson untuk tanda, kalo perlu nyalakan lampu utama supaya diberi kesempatan untuk kembali ke jalur yang benar.




Adrenalin terpacu ketika memang sampeyan nyalipnya ngepres, beda lagi kalo kasus di bawah ini, di bumi sumantra, jalannya sangat lengang sehingga kita overtake saja dengan tenang hati riang kalo perlu nyanyi-nyanyi.

Overtake tidak hanya goyang kanan, bisa juga sampeyan goyang kiri, kalo kondisi yang sampeyan salip ada di sebelah kanan, walaupun itu beresiko tapi tetap dilakukan, kenapa? karena pertama kita butuh cepat, kedua ada kesempatan dan ketiga hafal kondisi setempat. Dengan tiga alasan tersebut manuver overtake menikung dari kiri pun bisa dilakukan.


di jalan tol pun yang seharusnya bahu jalan digunakan untuk darurat tetap digunakan menyalip karena tiga alasan di atas, yang jelas peran co-driver disini sangat penting mengingat co-driver sebagai pengintai dan pengukur lebar bahu jalan.


Pakdhe yakin sampeyan yang sudah sering di jalanan pasti sudah mengalami hal-hal yang diuraikan di atas, bagaimanapun juga peraturan lalu lintas sudah ada, tapi situasi dan kondisi pasti berbeda. Dan ketika tertangkap basah melakukan pelanggaran entah dengan melewati marka atau overtake dari bahu jalan ataupun buka jalur di jalur kanan, tidak berarti menghentikan perjuangan di jalanan. Ya bisa kita gambarkan senjata kita cukup selembar nilai mata uang yang kecil. Ada pepatah "Memberi lebih dimudahkan daripada diminta" pasti sedulur sudah paham apa maksudnya.


Meski semboyan "Petugas menyemprit, kafilah tetap berlalu" dilakukan pasti semua akan terhenti ketika yang menyemprit adalah makhluk berbeda seperti di bawah ini.


Pakdhe yakin jalanan pasti malah kacau karena lalu lintas dilanggar semua. Bukan karena makhluk berbeda itu tidak tegas, tetapi karena berlomba-lomba untuk ditilang. Ono-ono wae.

Yang paling penting meski kadang kita harus melanggar aturan, harus kita camkan semboyan ini, "Biar Cepat Asal Selamat, Alon-Alon Ra Bakal Kelakon, Entuk Ngebut Angger Ra Benjut". Dan jangan lupa tetap meminta perlindungan Allah SWT.

Mancal Pedal

Siang hari ini mendung menggelayut, tapi udane ora ndang-ndang. Yah maklum aja bulan Januari khan musime rendheng pas puncak-puncake. Pakdhe Karyo teringat seminggu yang lalu pas kudu mancal pedal ke kota Kuningan. Hidup itu keras Jenderal! tapi nak ra dilakoni kapan klakone? lha yo to pemirsa? Sudah menjadi rutinitas mancali pedal sendirian, berapapun jaraknya berapapun waktunya. Jadi yo wis terbiasa wajib melek di jalanan. Kadang orang menganggap dunia ratan alias jalanan itu keras tur blekethekan alias kotor, ada anggapan orang yang hidup di jalanan pasti wong elek lan wong ra cetho, padahal kalo dipikir-pikir banyak pelajaran yang bisa diambil. Dan dipikir-pikir juga kok Pakdhe Karyo koyo nggedebus mirip tukang ngisi seminar, hahaha.
Coba sampeyan bayangken, betapa kerasnya hidup sopir-sopir bus, sopir-sopir truk beserta kernet sak kondekture, saat kita tidur nyenyak mereka-mereka kudu menyusuri jalanan. Betapa beratnya saat kita menikmati mata terpejam mereka kudu melek, sekali meleng bisa-bisa nyawa taruhannya. Mungkin sedulur yang pernah ngalamin mancal pedal semalaman bisa mbayangken piye abote menahan kantuk, apalagi di jam-jam kritis menjelang dini hari.
Ah, sudahlah, ora enek enteke kalo cuma membahas abote hidup di jalanan. Yang kita bayangkan tentang bis mungkin hanyalah ngetem sembarangan, melanggar lalu lintas, ngebut ugal-ugalan, rebutan penumpang dan hal-hal lain yang sekiranya negatif. Pernah ndak sampeyan bayangken sesuatu yang positif? Bagi Pakdhe yang sudah malang dijalanan (tidak melintang, soale kalo melintang bisa ketabrak) ada hal-hal yang dianggap sepele padahal itu bisa diambil pelajaran. Contohnya adalah konpoi atau berjalan beriringan. biasanya yang Pakdhe liat konpoi satu perusahaan, kadang 2 bus kadang 3 bus. kalo lebih malah rekoso, karena untuk goyang kanan kirinya harus diperhatikan jumlah bus yang ikut konpoi tersebut. Biasanya bus yang paling depan berperan sebagai pembuka jalur, yang lain mengikuti, dan peran ini bergantian antar bus karena mesthi pembuka jalur ki menguras pikiran, tenaga serta memacu adrenalin. Yah mungkin bisa sampeyan cari di yutup yang dimaksud konpoi itu gimana gambarannya. Yang Pakdhe liat pelaku konpoi yang paling sangar ada 3 Po Bus, berikut penampakannya.
Po. Haryanto > Super blink-blink
Bus yang satu ini emang blink-blink alias gemerlap. Lha wong semua sudah dimodifikasi, pake lampu kolong, strobo serta hiasan-hiasan lain yang bikin ngiler aja. Ciri khas lainnya warnanya tidak seragam alias bedo-bedo dengan mesin dan body yang selalu apdet. Selain itu ada gambar Mesjid Menara Kudusnya serta tulisan Sholawat. Kalo njerone Pakdhe tidak bisa cerita soale durung pernah naik bus ini.
Kalo yang satu ini Pakdhe pernah liat kandhange di daerah jepara, pas'e timur yang jual duren-duren itu. Ciri khasnya pake baju item-item sampe dipanggil black bus, trus pertama pake waifi, jadi cocok buat alay-alay yang selalu apdet kegiatan apa aja. Cuma mungkin harga tidak cocok buat alayer.
Yang ini pemain terakhir yang menurut Pakdhe konpoinya gila-gilaan. Kandhangnya ada di pantura deket perbatasan Denmark dan Al-Quds. Jumlah bise aja atusan, ciri khasnya pake baju yang apdet tiap edisi, alias macem-macem tapi agak berseragam.
Dari ketiga macem bus itu Pakdhe selalu nginthil di belakangnya kalo mancal pedal, lumayan ndak usah cari jalan sendiri plus selalu nyalain sein jadi kita bisa tau kapan pindah jalurnya.
Dari konpoi-konpoi ini Pakdhe bisa mbayangken alangkah luar biasanya kerjasama yang mereka lakukan, meski membawa kendaraan sepanjang 12 meteran, mereka menjadi team yang saling membantu. Padahal Pakdhe yakin kru-kru bis ini ndak pernah ikut pelatihan, training atau seminar yang menekankan pentingnya kerjasama, tapi naluri mereka di jalan menekankan kalo mereka harus bekerja sama. "Ringan sama dijinjing, berat pas goyang kanan" itu pepatahnya mungkin. Selain team work mereka juga luar biasa soal solidaritas, kalo ada 1 bis yang tertinggal karena tidak bisa nyalip atau faktor lain, yang lain akan mencarikan cara entah dengan memperlambat laju kendaraan lain atau lainnya supaya yang tertinggal bisa segera bergabung kembali. Ah sudahlah sampeyan cek sendiri di Ngalas Roban sana supaya lebih jelas.
Kerjasama antar kru satu perusahaan sudah merupakan hal yang biasa. Hal yang menarik yang kemarin Pakdhe saksikan adalah kerjasama waktu konpoi Haryanto dengan Bejeu. Keduanya saling bahu membahu membuka jalur. Padahal berbeda perusahaan dan tidak saling berkomunikasi. hanya naluri mereka sering bertemu di jalanan yang membuat mereka bisa otomatis bekerjasama. Bener-bener Ruarrrr biasa, tidak ada pepatah "Lawan di jalan Kawan di pangkalan" yang ada hanyalah "Saingan di agen perjalanan, Kerjasama di jalan beneran".
Kalo dipikir-pikir memang jalanan seperti kehidupan, tidak mungkin hanya lurus dan langsam saja. Kadang harus ngegas, ngebut, nikung, kalem, ngalah, nekat dan sebagainya. Manusia hanya bisa berencana namun Allah lah yang menentukan.
Sebanter senekat apapun di jalan jangan sampe sampeyan lupa berdo'a, karena keselamatan merupakan ketentuan dari Yang Maha Kuasa


Senin, 12 Januari 2015

Sugeng Rawuh

Sekedar sinau menuangkan ide dan komentar tidak jelas supaya lebih tertuang, eh..
tak ada yang istimewa sih, wong jenenge ae mung tukang pancal, dudu sarjana apalagi penulis propesional. Ya harap dimaklumi aja para pemirsa, hehe.
Masih berada di awal tahun 2015, namun jenenge kejadian ki wis ono-ono wae. Paling hangat sehangat coro bikan dagangan Yu Larmi adalah carut marutnya (atau karut marut???) donyo permulukan atau permaburan di Endonesa Tercintah.
Akhir bulan desember lalu ada insiden jatuhnya sepawat muluk di lautan antah berantah, sing akhirnya ditemukan di perairan sekitar Kalimantan. Jane jenenge musibah ki bisa menimpa siapa aja, entah meh kleleran di ratan alias jalan raya atau nyabrang numpak prau atau mabur muluk di angkasa. Nak kecelakaan sepawat ki bukan berita yang terlalu heboh di negeri kita Endonesa Tercintah, yang jadi berita seheboh-hebohnya malah soal katanya manuk emprit di sawah kalo sepawat Ngair Ngasia tersebut ora duwe KIR lan STNK buat terbang, jadi ya Polisi Lalu Lintas permaburan nyemprit senyemprit-nyempritnya, masih lumayan sempritane ora keleleg mlebu kolo menjing.
Ngair Ngasia by google.com
Penampakan tersebut merupakan sedulure sepawat yang jatoh kemarin. Mottonya (dudu moto penyedap) lumayan marai ngiler sengiler-ngilernya, wong jare Nou Eperi Wan Ken Plai, alias sopo wae saiki iso mabur, weleh njur semua orang sliweran wira-wiri di udara gituh? Ya kamsude iso numpak montor muluk saking murahe. Gimana nggak dibilang murah, wong promone aja nggilani bukan karena hargane muahal poooool, tapi numpak montor muluk mung sekelas tuku mie ayam sak ndeg-an. Biar do percoyo Pakdhe Karyo tidak lupa mencari barang bukti per-nggilani-an tersebut.
Nggilani regane

Entuk ora mbayar malahan

di bawah nilai mata uang
coba sekarang Midun sampek Singaparna mung telung puluh songo ewu, coba Pakdhe Karyo tambahi sewu jadi 40.000 sampeyan renang dari Midun sampek Singaparna mau nggak? wong Pakdhe wae dibayar sak njuta wegah malah nawani mung 40.000. lha itu jujul sewu buat parkir udah bisa numpak montor muluk. Terus Ngair Ngasia dari pusatnya di negeri Upin-Upin sana juga ora kalah gendhenge, wong mabur kok iso 0RM alias gratis-tis-tis-tis. Kui arep numpak montor muluk apa numpak odhong-odhong? wong odhong-odhong aja bayar minimal seribu rupiah. Yang dari negeri Singa yo ora kalah edyane. 5 cent alias ora nganti sak dolar iso mabur dari Singaparna sampek omahe Bli Kodrat. Opo ora gumun para pemirsa? Tapi ya jangan bilang kui ora bathi, wong perhitungan seperti itu wis dihitung senjlimet-jlimetnya oleh para ahli kalkulator dari berbagai negara, ini ahli kalkulator tingkat dewa dudu mung bakul di Pasar Legi yang kluthak-kluthik mencet tombol kalkulator apalagi tukang serpis kalkulator.
Ah, terlalu panjang sepanjang jalan kenangan nak mbahas perhitungan-perhitungan seperti itu, untuk mengurai kemacetan arus impuls listrik di otak, Pakdhe Karyo malah kluyuran neng kabupaten Kuningan. Jane sebenarnya karena ada tugas dari kantor sih, tapi ben rodo gayeng dibilang kluyuran wae lah.
Selesai melaksanakan tugas selama dua hari, Pakdhe Karyo penasaran kayaknya seperti pernah ke tempat sekitar tersebut dua tahun silam, usut punya usut ternyata yang dikunjungi pakdhe hanya 100 meter dari tempat tugas. ealah mbok ya tau pas ada tugas agak lama 4 bulan lalu lek ya marem sing nostalgila. Pas memasuki daerah perumahan plus kawasan waterboom yang mungkin sekitar 2km di atas kabupaten kuningan, di atas kamsude ke arah gunung Ciremai dudu mabur ke atas, kok samar-samar ada penampakan buntut benda aneh. setelah mendekat dengan mata kepala serta mata kaki sendiri Pakdhe Karyo yakin kalo benda aneh itu adalah sepawat terbang, nggak cuma buntut, tapi kabeh utuh sak bodhi-bodhine sak ondhone sak pramugarine (yak'e).
perasaan tempat nge-tem sepawat paling dekat di Cirebon, itu pun setau Pakdhe bukan buat jalur permaburan komersial, kok ada yang nyangkut di lereng Ciremai. Ternyata itu buat wisata, alias dirakit di tempat, mbayare jare mung 5ribu bisa main-main sepuasnya termasuk menikmati kokpit dan WC sepawat. ngeburne juga boleh asal sangu aptur dewe dan bikin landasan dewe, wong tempat parkir sepawat tersebut mung sak ucrit. Sayangnya Pakdhe tidak bisa menikmati karena tidak ada uang 5 ribu, diperiksa di saku adanya ricih dan 2 ribuan, di dompet adanya 10 ribuan, ya sudah ikhlaskan saja tidak bisa masuk gara-gara tidak ada 5ribu. Cuma Pakdhe sempat berburu poto di Gugel biar ada barang buktinya.
Penampakan benda aneh di Kuningan

2012 Silam
Persis tempatnya di tempat poto Pakdhe yang isinya mobil-mobil ini, batasnya antara tempat berdiri Pakdhe sampek tenda-tenda putih di depan itu. Kalo helikoptrek bisa buat mendarat di situ, coba kalo sepawat khan mesti nggak bisa. Ya sudah kalo diterusin iso mumet nanti Pakdhe.