Sajian seadanya

Hanyalah keisengan dan ide yang berserakan yang dikumpulkan dari seorang pemancal pedal.

"Kabari Pakdhe jika isinya keliru, Kabari yang lain jika isinya cuma segitu"


Rabu, 14 Januari 2015

Kuatne mentale, Pancal pedale : Fenomena Unik

Pagi ini masih mendhung pemirsa, wong jenenge ae musim hujan, nak terang benderang malah tidak pas, apalagi ini bulan Januari yang konon katanya belum pernah bulan Januari musim kemarau di Endonesa Tercintah ini. Uneg-uneg ini jangan dibaca kalo tidak minat, cukup dipelajari saja, wong isinya cuma gedebusan tukang pancal pedal yang reka'e jadi pengamat, yah bener-bener pengamat karena mampune cuma mengamati tidak melakoni.
Pakdhe sebenarnya mau nulis tentang pengalaman-pengalaman memancal pedal, cuma ada hal unik yang rasanya ngganjel di hati pengen dikeluarin, kalo ndak dikeluarin bisa-bisa keganjel dan kelamaan ngetemnya. Mungkin sampeyan sudah bisa membayangkan kalo Pakdhe kasih klu, yaitu peta jalur terpanas dan persaingan tersengit. Hayo tebak yang dimaksud apa? Wis lah kalo tebak-tebakan malah mumet dan gagal paham nanti, Pakdhe mau mengurai jalur ekstrim terseksi, Solo-Surabaya.
Surakarta

Surabaya
 Kenapa dikatakan ekstrim? karena sudah menjadi rahasia umum kalo jalur tersebut mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, eh malah nyanyi lagu pilem anak-anak. Jalur tengah, atau jalur antara Solo-Surabaya memang mempunyai medan yang relatif berkelok-kelok dan sempit apalagi di sekitar hutan Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Madiun.

Hutan Jawa Timur
Terus disebut terseksi karena memang molek dan bohay, eh malah membahas yang lain, karena memang jalur tersebut tidak pernah lekang oleh zaman, alias semakin besar dan semakin ramai saja. Meski di jalur-jalur ini terdapat jalur transportasi kereta api, namun jalur darat menggunakan bis umum lebih diminati.

Kereta Api
Disinilah keunikan tersebut muncul, fenomena kereta api sebagai transportasi murah dan relatif lebih nyaman daripada menggunakan transportasi darat lainnya tidak berlaku di jalur ini, kenapa? Pakdhe coba mengurai saja, jangan terlalu dipercaya.

Pertama : Tarif Bus Murah
Tarif yang dipakai di jalur ini menggunakan sistem point-to-point, jadi biaya yang dikeluarkan sesuai dengan jarak yang ditempuh yang disesuaikan dengan karcis yang diterima penumpang. Jadi tidak ada kasus mbayare "dikepruk sak modare" alias mbayarnya mahal tidak jelas.
Sumber Kencono

Mira

Di samping itu, terdapat kode KL alias pemegang kartu langganan, yang pasti mendapatkan diskon alias lebih murah. Bayangkan jika sampeyan pengguna harian jalur ini, pasti selembar KL akan membuat sampeyan ngiler khan? hehehe. Lumayan selisihnya dalam sebulan bisa buat beli mobil-mobilan buat anak.
Kartu Langganan

Kedua : Persaingan antar Perusahaan
Dengan tidak adanya pemain tunggal, otomatis bus akan berlomba-lomba menarik minat penumpang. Meski konon zaman baheula dulu sekali, jalur ini termasuk jalur dengan perusahaan bus banyak, namun Pakdhe mengamati akhir-akhir ini tidak pake konon, tinggal dua pemain yang bermain (sebenarnya bekerja) di jalur ini, yaitu Sumber Kencono yang kini berubah menjadi Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu serta Mira. Maka keduanya pun berlomba-lomba untuk menggaet penumpang dengan meningkatkan pelayanan semaksimal mungkin.
Kawan di Pangkalan
Lawan di Jalanan

Ketiga : Waktu tempuh singkat
Sudah diketahui bersama kalau bis-bis di jalur ini terkenal sebagai raja jalanan, karena dengan jalur sempit dan berkelok mampu memaksimalkan kecepatan di jalan. Menurut analisa Mbah Darmo sebelah rumah Pakdhe, kecepatan ini merupakan kombinasi antara karakter orang Surakarta dan orang Surabaya, maklum keduanya mengandung format Sura alias Hiu jadi ganas-ganas kucing gitu. Orang Surabaya cenderung keras dan sangar, sedangkan orang Surakarta cenderung nekat meski halus. Yang ini jangan dipercaya wong cuma gedebusan. Waktu tempuh yang singkat selain karena faktor kehandalan kru (driver dan kernet), kehandalan mesin, juga karena tidak menggunakan sistem setoran, jadi tidak perlu berlama-lama ngetem sampe karaten, poko'e gas sak tekane, enek penumpang yang berhenti, kalo ndak ada ya tetep bersyukur.
Pancal Pedale

Keempat : Bisnya Nyaman
Persaingan sengit duo perusahaan tersebut, sudah pasti akan bersaing memberikan pelayanan sak pole, yang jelas bukan hanya sekedar mlaku mrambat sak tekane, tapi harus nyaman, cepat dan murah. Bis-bis yang dipakai di jalur ini relatif menggunakan bis baru dan sangat jarang hanya re-body, karena hal ini berkaitan dengan erang-mengerang sang mesin, coba kalo bodyne anyar mesine lawas, pasti tidak erang-mengerang tapi malah eden-mengeden. Trus yang Pakdhe ketahui beberapa waktu terakhir ini semua armada sudah menggunakan pendingin udara, alias tidak perlu tepas tangan. Coba bayangken alangkah nikmatnya dihembus AC dengan tanpa asap rokok kemebul di tengah panasnya jalur tersebut. Ah sudahlah Pakdhe cuma bisa membayangkan.
Tepas tangan
Kulkas berjalan

Kelima : Interval pendek
Persaingan lain adalah jor-joran mengeluarkan bus terbaru, sehingga jarak keberangkatan bus sangat mepet. Ini termasuk memanjakan penumpang karena tidak perlu nunggu sak ngoyote sak ndhangkele untuk mendapatkan angkutan umum.

Keenam : 24/7
Ini yang tidak kalah penting, 24 jam sehari melayani penumpang, sehingga tidak ada kasus sampeyan thenguk-thenguk di tengah hutan menunggu bis semalaman.

Pakdhe cuma bisa membayangken alangkah nikmatnya mereka yang selalu menggunakan jasa transportasi ini di jalur tersebut, dan alangkah sengsaranya sekali ada mogok masal.
Himbauan Pakdhe sampeyan bisa nguwongne kru bis, bagaimanapun juga kalo diuwongne dan dihormati pasti lebih semangat kerjane, jangan sampai dikompori buat kebut-kebutan, karena Pakdhe sendiri kalo dikompori ya kicat-kicat kepanasan.
Wis, jangan dipercaya kalo Pakdhe bilang jalur Solo-Surabaya adalah jalur 100% menggunakan bus AC, wong ini cuma gedebusan pagi-pagi, kalo salah mohon dikoreksi.
sekian, "salam pancal pedal, harus tetap tawakal"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar